Cerita Inspiratif : Ada Cinta di Air Terjun Pelangi
Alkisah di
negeri atas awan hiduplah seorang raja
yang sangat bijaksana bernama Raja Theo dan Ratu Katarin. Mereka dikaruniai
tujuh puteri. Tujuh bidadari bersaudara itu dikenal karena kecantikan mereka
yang tiada tara. Namun sangat disayangkan, kecantikan itu berbanding terbalik
dengan sikap dan hati mereka yang sering dipenuhi amarah.
Mereka selalu bertengkar, bahkan
hanya karena hal-hal sepele. Akhirnya Sang Raja
dan Ratu murka. Sang Raja
menghukum mereka dan menyuruh mereka untuk turun ke mayapada.
"Kalian dilarang kembali
sebelum belajar arti kebersamaan dan cinta sejati!" titah Sang Raja Theo.
Tujuh bidadari itu dikirim ke bumi,
tepatnya ke sebuah danau yang dikelilingi hutan lebat dan dihiasi air terjun
tinggi. Tempat itu dulunya indah, namun kini dipenuhi lumut, bebatuan licin,
dan airnya keruh. Banyak sampah yang disebabkan oleh ulah manusia yang datang
ke air terjun itu.
"Kalian harus
mengembalikan keindahan, kebersihan dan
keasrian air terjun dan hutan ini," ujar Sang Ratu Katarin sebelum menghilang. "Hanya
dengan kerja sama, kalian bisa kembali ke negeri atas awan."
Tujuh bidadari itu saling pandang.
Keegoisan mereka mulai muncul dan merasa tugas ini tampak mustahil.
Hari pertama, mereka mulai bekerja,
tetapi bukan bekerja sama. Anastasia, bidadari tertua, merasa paling bijak dan
menyuruh yang lain bekerja.
"Aku akan mengawasi. Kalian lakukan
saja!" katanya seraya duduk di atas sebuah batu..
"Kenapa kami harus bekerja
sementara kau hanya melihat?" Fairy, si bungsu, protes.
"Aku lebih berpengalaman dan
aku anak paling besar jadi aku berhak mengatur kalian!" sahut Anastasia.
Tak lama, Angeline dan Anne pun
ikut berdebat. Raina dan Rose memilih diam, tetapi mereka tetap enggan bekerja
sama. Sedangkan Celina, yang paling pendiam, hanya menghela napas panjang.
Tibalah hari kedua mereka berada di
mayapada. Keadaan mereka semakin memburuk. Mereka tak pernah bisa bekerja sama.
Mereka saling mengandalkan satu sama lainnya. Kondisi air terjun dan sekitarnya
tak banyak berubah, tetap kotor dan dipenuhi sampah.
Saat Rose membuang ranting, dia
tersandung akar, jatuh ke sungai, dan hampir terbawa arus deras. Namun, dengan
cekatan, Fairy menarik tangannya. Rose terselamatkan, tetapi gengsinya terlalu
tinggi untuk berterima kasih. Fairy tampak kesal kepada saudaranya itu.
Sementara itu, Angelina dan Anne
menemukan gua di balik air terjun. Mereka merasa penasaran dan masuk ke dalam. Saat masuk ke bagian paling
dalam, keduanya menemukan kristal berkilauan di sebuah ceruk dinding gua itu.
"Lihat!
Ini pasti permata ajaib!" seru Anne. Namun, saat mereka menyentuhnya,
tanah bergetar kencang. Beberapa stalaknit terjatuh dan hamper menimpa mereka.
Untungnya mereka bisa menghindar.
"Siapa
yang berani mengusik tempatku?" Suara yang sangat keras menggema dari
dalam gua. Seorang raksasa bermata merah
dan bertubuh legam keluar dari bagian terdalam gua tersebut.
"Kalian bidadari sombong! Tak
pantas menyentuh kristal penjaga air terjun!" geramnya saat melihat
kristal di tangan Angelina.
Raksasa itu bernama Guntur. Ia
adalah penghuni hutan yang selama ini menjaga air terjun. Angelina dan Anne
gemetar ketakutan. Raksasa itu menghunjamkan tangan besarnya, hampir menghantam
mereka. Namun, sebelum terkena, Celina yang berada di luar gua segera melompat
dan menarik tangan kedua saudaranya keluar gua.
Melihat
hal itu, Sang Raksasa segera mengejar para bidadari itu. Wajahnya tampak
menahan murka.
"Kita
harus bekerja sama, atau kita semua celaka!" Anastasia, yang melihat kejadian itu, segera memimpin
saudari-saudarinya.
Mereka
saling bertukar pandang, akhirnya sadar bahwa kini bukan waktunya bertengkar.
Dengan kekuatan sihir mereka, Anastasia dan Raina membuat angin kencang untuk
mengalihkan perhatian Guntur, sementara Rose dan Fairy menggunakan air dari
danau untuk melumpuhkan langkahnya. Celina dan Angelina memanipulasi akar pohon
untuk mengikat tubuhnya.
Raksasa itu menggeram, tetapi ia
tidak bisa bergerak. Para bidadari itu berhasil melumpuhkannya dengan kekuatan
mereka
"Kalian berhasil," katanya dengan
suara berat, "namun satu hal yang harus kalian tahu, aku bukan musuh. Aku
hanya penjaga air terjun ini. Dan tempat ini butuh cinta dan ketulusan, bukan
keserakahan."
Tujuh bidadari tersentak. Mereka
telah bertindak gegabah.
Mereka merasa
bersalah dengan tindakan yang telah dilakukan.
"Air terjun ini akan kembali
jernih jika kalian benar-benar bekerja sama dan melakukannya dengan hati. Itu
adalah kunci sebenarnya."
Sejak hari itu, tujuh bidadari
benar-benar bekerja sama. Mereka membersihkan lumut, mengangkat batu, dan
menata kembali aliran sungai. Sedikit demi sedikit, air yang keruh berubah
jernih, dan pelangi mulai muncul di air terjun.
Saat mereka merasa tugas selesai,
langit di atas mereka mulai berpendar. Sang Raja Theo dan Ratu Katarin muncul.
"Kalian telah belajar arti
kebersamaan," ujar Sang Ratu Katarin, "kembalilah ke negeri atas awan."
Namun, saat cahaya hendak membawa
mereka pulang, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Fairy, si bungsu, tetap
berdiri di tempatnya.
"Kenapa kau tidak ikut,
Fairy?" tanya Anastasia.
Dia
memandang adiknya heran.
Fairy tersenyum lembut. "Aku
ingin tetap di sini, Kak."
"Apa? Kenapa?" tanya
Raina kaget.
Dia tak mengerti perubahan
sikap saudaranya itu.
"Aku menyadari sesuatu. Bumi ini juga
butuh cinta dan penjaga. Aku ingin tinggal di sini, menjaga tempat ini bersama
Guntur."
Fairy menatap air terjun
yang kini memancarkan keindahan.
Semua terdiam. Raja Theo dan Ratu Katarin
tidak marah. Mereka tersenyum penuh kebanggaan. "Pilihanmu bijak, Fairy.
Kami merestui."
Akhirnya enam bidadari kembali ke
negeri atas awan, sementara Fairy
memilih tinggal di bumi, menjadi penjaga air terjun bersama Guntur.
Namun, tak ada yang tahu bahwa
sesungguhnya, Guntur bukanlah sekadar raksasa penjaga hutan. Ia adalah seorang
pangeran dari dunia bawah yang dikutuk karena kesombongannya. Kutukannya hanya
bisa dihapus oleh ketulusan dan cinta sejati. Dan saat Fairy memilihnya, tubuh
Guntur berubah.
Ia kembali menjadi pangeran rupa
Katarin, dengan mata sehangat mentari.
"Kau... kau bukan raksasa?" tanya Fairy tak bisa menahan keterkejutannya.
“Aku
hanyalah seorang yang tersesat dalam keserakahan. Sama seperti kalian dulu.
Namun ketulusan kau, Fairy, telah menyelamatkanku." Guntur tersenyum manis kea rah Fairy.
Fairy membalas senyum itu disertai
rasa haru. Pelangi di air terjun semakin terang, menjadi saksi bisu bahwa cinta
sejati tak selalu datang dari kemewahan, tetapi dari ketulusan hati.
Cibadak,
21 Februari 2025
Terbit juga di blog https://www.kompasiana.com/ninasulistiati0378/67b9f16dc925c41b774f80b3/dongeng-ada-cinta-di-air-terjun-pelangi
.jpg)
Komentar
Posting Komentar