Air Mata Belantara (Bagian 2)
Mentari menyelinap dari sela- sela bilik
bambu dan menyilaukan netraku. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan
yang mulai terang. Berbeda dengan semalam yang gelap gulita tanpa cahaya
oenerangan.
Aku melihat Pras masih setia berada di sampingku
dan Tejo terlelap di depanku.
Perutku mulai terasa perih. Ada bunyi aneh
berasal dari sana. Semalaman kami dikurung tanpa diberi makan dan minum. Pantas
saja lambungku menuntut.
"Kamu sudah bangun, Kin?" Suara
Pras terdengar tak jauh dari telingaku. Rupanya aku tertidur seraya bersandar
di bahu Pras. Pantas saja suaranya sangat dekat.
"Maaf, aku tidur di bahumu, Pras.
Pasti kamu terganggu dan tak nyaman ya," ujarku sambil memperbaiki
posisi dudukku
"Tak apa- apa, Kin. Melihatmu dalam
keadaan baik- baik saja sudah cukup membuatku senang," jawab Pras sambil
membentuk kedua jarinya menjadi bentuk love.
"Kamu ini sempat- sempatnya
menggombal dalam kondisi begini," ujarku sambil menahan malu
Pras memang sosok laki- laki idamanku. Dia
selalu mengayomiku. Aku merasa aman dan nyaman jika berada di dekatnya meskipun
status kami hanya sebatas sahabat . Belum ada kata apa pun keluar dari mulut
Pras selama ini. Padahal aku sudah berharap jika kami bisa bersama dengan
status yang berbeda
"Hai,melamun!" teriak Pras
membuatku kaget. Aku hanya tersenyum.
"Jo, bangun!" Pras membangunkan
Tejo yang tepat tertidur di hadapannya. Tejo tampak bergeming. Mungkin dia
sangat lelah setelah seharian berjalan dan kini dikurung di gudang ini.
"Gubrak!" Suara pintu dibuka
terdengar keras sekali.
Beberapa orang datang dengan wajah yang
menyeramkan. Tubuh mereka bertato layaknya preman - preman jahat yang suka ada
di film laga. Mereka memandangi kami dengan sorot tajam.
"Kalian mau apa menyelinap ke tempat
kami!" hardik laki- laki berjaket biru.
"Kami tersesat, Pak. " Pras
menjawab dengan tenang. Tejo yang semula pulas kini terbangun oleh suara itu.
"Bohong! Kalian sengaja menyelidiki
tempat kami ! Aku melihat mereka mengendap- endap di atas sana sambil mengamati
tempat ini," ujar preman berpakaian hitam.
Tak lama kemudian tiga orang bertopeng
datang ke ruangan itu. Pasti mereka menyembunyikan identitas. Aku berpikir
mereka tidak mau diketahui identitas berarti mereka adalah orang yang kami
kenal. Namun, siapa mereka sebenarnya?
Mereka tidak berbicara apa pun. Setelah
melihat kami, mereka pergi tanpa berkata apa- apa.
"Pras, ada yang janggal," bisikku
kepada Pras.
"Maksudmu?" tanya Pras
balik bertanya.
"Mereka menggunakan topeng karena
takut diketahui jati dirinya oleh kita. Mereka juga tak bicara apa pun karena
mereka tak ingin kita mengenali suaranya. Saya berpikir mereka itu familiar
dengan kita," papar aku menyampaikan analisa.
"Benar juga ya," ujar
Pras," Siapa ya mereka"
"Kita harus bisa keluar dari
sini," jawabku sambil memberikan kode kepada Tejo.
Tiba- tiba Tejo berteriak,"Pak, aku
sakit perut ."
"Diam! Jangan berisik!" bentak
salah satu dari mereka.
"Aku mau pup nih. Aduh... sudah tak
tahan, Pak," rintih Tejo berakting," Bisa- bisa aku pup di
sini."
"Pak, tolong dong teman saya. Kasihan,
lagi pula jorok ikh jika dia pup di sini," timpal Pras meyakinkan para
preman itu.
"Bro! Kamu kawal dia, ya ke toilet.
Awas jangan sampai kabur!" Preman berjaket biru itu memerintah temannya.
Ikatan kaki Tejo dilepas agar bisa berjalan.
Aku dan Pras menunggu di gudang itu dengan
dijaga dua orang preman. Aku tahu Tejo punya seribu cara untuk bisa kabur dari
sini dan meminta pertolongan.
Lama juga Tejo berhajat di toilet, hampir
setengah jam.
"Bang, anak yang tadi kabur dari jendela
toilet. Aku kejar tak terlihat jejaknya!" teriak laki- laki yang mengawal
Tejo tadi.
"Mampus. Kita pasti dimarahi
Bos!"
Aku tersenyum mendengar ucapan
mereka. Tepat dugaanku, Tejo pasti bisa kabur. Dia pasti mencari
pertolongan dan membebaskan kami.
"Kamu jaga anak- anak ini dengan baik!
Jangan biarkan mereka kabur lagi! Aku mau lapor ke Bos dan mengerahkan orang
untuk mencari anak itu," ujar si jaket biru dengan tegas. Kemudian
dia keluar dari tempat kami disekap.
“Sst, kamu alihkan perhatian mereka, Kin.
Aku coba melepaskan ikatan tali ini,” ujar Pras berbisik,” Taliku sudah mulai
longgar.”
Aku menganggukan kepala. Aku berpikir keras
untuk mencari cara mengalihkan perhatian mereka.
“Pak! Bolehkah aku minta segelas air?
Please… aku sangat kehausan,” pintaku memelas. Aku melihat Pras sudah
melepaskan talinya tetapi belum semua simpul terlepas.
“Diam! Jangan ribut! Jangan coba- coba
menipu kami,” bentak si baju hitam.
“Pak … aku haus. Tolong berikan minum.
Nanti kalua aku mati di sini gimana?” tanyaku sambil berakting lemas.
“Berikan air minummu! Lihat gadis itu
lemas!” ujar si baju biru. Si baju hitam memberikan satu botol mineral yang
sedang dipegannya kepadaku. Sedangkan aku hanya menatapnya.
“Bagaimana aku bisa minum, tanganku terikat,’
gerutuku sambil memperlihatkan tangan.
“Nih! Aku suapi saja,” ujar si baju hitam
sambil megarahkan botolnya ke mulutku.
Aku
pura- pura tersedak. Pras menganggukan
kepalanya tanda dia sudah melepaskan ikatannya. Tinggal ikatan kaki saja yang
harus dilepaskan.
Suara hand phone si baju biru terdengar
kencang. Dia tampak sedang menerima telepon sambil menganggukan kepalanya.
“Siap, Bos! Kami akan membantu mereka,’
ujar si baju biru. Mereka meninggalkan Gudang dengan terlebih dahulu mengunci
ruangan ini. Aku menarik nafas lega. Pras juga terlihat senang karena keprrgian
kedua orang itu. Tinggal menunggu waktu agar kami kabur dari sini. Namun,
bagaimana caranya bila pintu gudang ini tertutup rapat.

Komentar
Posting Komentar