Air Mata Belantara (bagian 1)
Kita harus hati-
hati menyisir hulu sungai." Pras berbicara sambil menepiskan ranting-
ranting pohon di depannya.
"Kamu masih
kuat, Kin?" tanya Pras sambil melirik ke arahku. Aku hanya
menganggukkan kepala pelan.
Perjalanan menuju
Gunung Pangrango cukup sulit. Aku, Bimo, Reina, Tejo dan Pras sengaja
merencanakan untuk menjelajah jalur baru.
Kami
membutuhkan tenaga ekstra karena melalui jalur baru yang tidak biasa. Di
hutan bagian barat ada aliran sungai yang sangat jernih airnya. Suara
gemericik airnya terdengar dari tempat kami berada.
"Tunggu!
Kalian dengar sesuatu," ujar Bimo sambil menahan langkahnya. Aku dan yang
lainnya ikut berhenti sambil memasang telinga.
"Ada suara
langkah kaki," ujarku berbisik.
"Iya, ada
beberapa langkah." Tejo menambahkan seraya menunjuk ke arah barat.
"Mungkin ada
penduduk yang mencari kayu bakar," timpal Reina.
"Masa sih di
tengah hutan begini ada orang?" tanya Pras ragu.
"Jangan ...
jangan ... demit penunggu hutan," ucap Bimo pelan.
"Hush...!
Jangan ngomong sembarangan di tempat begini." Aku melotot kepada Bimo yang
cengengesan .
"Diam! Jangan
berisik…” ujar Pras sambil menempelkan telunjuk ke mulutnya.
Suara langkah itu
terdengar lagi. Kali ini suara langkahnya terdengar lebih banyak berarti
pemilik langkah itu lebih banyak.
“Kalian tunggu di
sini dulu. Aku mau naik ke atas bukit itu agar bisa melihat apa yang sebenarnya
terjadi,” ujar Pras sambil bersiap- siap pergi.
“Aku ikut, Pras!”
pintaku lirih. Pras menganggukan kepalanya.
Aku menaiki bukit
yang tak terlalu tinggi bersama Pras. Dari sana kami bisa melihat aktivitas
yang terjadi di lembah. Suara gergaji listrik terdengar cukup keras dari sini
disertai teriakan derak pepohonan yang tumbang.
“Pras, bukankah
itu hutan lindung?” tanyaku sambil menunjuk ke arah lembah.
“Setahuku begitu.
Mengapa pepohonan itu bisa ditebangi ya? Apakah mereka berizin?” Pras bertanya
pada dirinya sendiri. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.
“Ayo, kita balik
lagi ke teman- teman.” Aku mengajak Pras sambil menarik tangannya. Kami
berjalan pelan- pelan khawatir ketahuan sedang mengawasi gerak- gerik mereka di
lembah.
Saat tiba di
rombongan, Pras menceritakan aktivitas yang ada di lembah.
“Banyak pohon yang
ditebang paksa oleh orang- orang itu,” ujar Pras.
“Lalu apa tindakan
kita selanjutnya?” tanya Bimo.
“Kita lapor saja
ke polisi hutan. Kamu kan punya nomor Pak Aziz, Jo. Ayo telepon dia. Tunggu apa
lagi!” Reina berkata sambil menarik- narik Tejo.
Akhirnya Tejo
menelepon Pak Azis, polisi hutan sekaligus pembina kami di mapala. Aku tak
mendengar jawaban dari Pak Aziz.
“Kamu kirim pesan
saja, Jo. Mungkin jaringan sedang tidak bagus di sini,” nasihatku kepada Tejo.
Akhirnya Tejo
menulis pesan kepada Pak Aziz dengan harapan agar Pak Aziz segera mengirimkan
bantuannya.
Mereka pelan-
pelan mendekat ke arah lembah tempat orang- orang yang sedang mengolah kayu jarahan itu. Hanya Bimo dan
Reina yang tidak ikut mendekati tempat itu. Pras takut jika kami tertangkap
tidak ada yang akan memberikan pertolongan. Pras memang cerdas.
“Diam di tempat!” bentak seseorang dari belakang kami.
Tampak tiga orang sedang berdiri seraya menodongkan pistol.
Aku bersembunyi di balik tubuh Pras. Tejo berniat
untuk melawan ketiga orang itu, tetapi Pras menahannya karena khawatir Tejo
akan ditembak oleh mereka.
Akhirnya kami digelandang ke sebuah pondok sambil
diikat tangan. Aku terus mengekor Pras dari belakang. Kami dimasukkan ke sebuah
gudang yang ada di samping pondok itu. Kami duduk di antara tumpukan karung
yang entah apa isinya.
“Apa yang akan mereka lakukan pada kita, Pras?”
tanyaku dengan nada cemas.
“Kita berdoa saja semoga kita akan diselamatkan, ya.
Sekarang kita ikuti saja apa yang mereka lakukan kepada kita.” Pras
meyakinkanku.
Aku bersandar di dinding bambu, bersebelahan dengan
Pras. Tejo duduk tepat di depan aku dan Pras. Aku hanya bisa berdoa semoga ada
yang dating memberikan pertolongan kepada kami.
Mentari tampak redup dan masuk melalui dindingbilik
bamboo, pertanda hari sudah menjelang senja. Entah apa yang akan terjadi dengan
kami nantinya.

Komentar
Posting Komentar